Seorang hakim di Amerika Serikat (AS) menerapkan hukuman yang aneh kepada seorang penjual ganja. Bukan hukuman penjara yang dia terima, terpidana itu malah disuruh menulis artikel mengenai bahaya menjual ganja.
Vonis itu dijatuhkan oleh Hakim Dave Gamble kepada Matthew Palazzolo, seorang pemuda berusia 25 tahun. "Pemuda ini punya gelar sarjana dan sebenarnya memiliki masa depan yang cerah, namun telah bertindak bodoh," kata Gamble saat pembacaan vonis di pengadilan Kota Carson, negara bagian Nevada, Selasa 17 Agustus 2010.
Wajar bila hakim menilai narapidana telah bertindak konyol. Pasalnya, pria yang bekerja di suatu firma hukum itu tertangkap basah menjual ganja kepada seorang informan polisi Februari lalu.
Palazzolo diberi jangka waktu 90 hari untuk menulis suatu artikel mengenai pengakuan bahwa ganja merupakan obat terlarang yang bisa membuat dia ketagihan untuk mencoba narkotika yang lebih kuat.
Dia mengaku menanam ganja setelah mendapat kartu medis untuk mengonsumsi obat itu demi mengobati punggungnya dari rasa sakit. Lama-kelamaan dia ketagihan dan mulai membudidayakan mariyuana untuk dijual.
Selain menulis essai, terpidana juga harus mengikuti program rehabilitasi dan tes obat terlarang secara berkala.
Vonis itu dijatuhkan oleh Hakim Dave Gamble kepada Matthew Palazzolo, seorang pemuda berusia 25 tahun. "Pemuda ini punya gelar sarjana dan sebenarnya memiliki masa depan yang cerah, namun telah bertindak bodoh," kata Gamble saat pembacaan vonis di pengadilan Kota Carson, negara bagian Nevada, Selasa 17 Agustus 2010.
Wajar bila hakim menilai narapidana telah bertindak konyol. Pasalnya, pria yang bekerja di suatu firma hukum itu tertangkap basah menjual ganja kepada seorang informan polisi Februari lalu.
Palazzolo diberi jangka waktu 90 hari untuk menulis suatu artikel mengenai pengakuan bahwa ganja merupakan obat terlarang yang bisa membuat dia ketagihan untuk mencoba narkotika yang lebih kuat.
Dia mengaku menanam ganja setelah mendapat kartu medis untuk mengonsumsi obat itu demi mengobati punggungnya dari rasa sakit. Lama-kelamaan dia ketagihan dan mulai membudidayakan mariyuana untuk dijual.
Selain menulis essai, terpidana juga harus mengikuti program rehabilitasi dan tes obat terlarang secara berkala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar